Kegagapan cendekiawan muslim menghadapi perkembangan teknologi

Dua hari terakhir pernyataan Sekjen ICMI Jafar Hafsah menjadi isu menarik terkait pernyataannya yang meminta pemerintah untuk melakukan pemblokiran terhadap Google dan Youtube .

Sebelum memberikan penilaian terhadap pernyataan beliau ada baiknya untuk memahami ekosistem internet yang cenderung kompleks dan berbeda dari teknologi sebelumnya. Teknologi internet dapat dipahami dalam beberapa tataran yaitu aspek teknis, ekonomi dan sosial budaya. Pada tulisan ini hanya akan dibahas aspek teknis untuk membantu memahami kompleksitas dalam teknologi internet

Perkembangan internet dari media massa

Internet kerap diasosiasikan sebagai konvergensi teknologi, dimana terjadi penyatuan platform atas teknologi-teknologi informasi yang telah ada sebelumnya.  Ilustrasi dibawah ini memberikan gambaran bagaimana media massa yang berkembang sebelumnya (media traditional) secara adaptif bergabung kedalam teknologi internet.

Screenshot (87)

Alur konvergensi media

Dapat kita lihat bahwa teknologi media yang ada sebelumya, kemudian tergabung menjadi satu, terknologi internet. Namun harus diingat bahwa penggabungan ini tidak berarti menghilangkan teknologi sebelumnya, karena internet bisa berperan sebagai medium pelengkap untuk khalayak yang lebih luas. Sebagai contoh adalah beberapa TV swasta (seperti MetroTV and .Net) yang juga menggunakan internet untuk melakukan streaming siarannya agar bisa diakses secara global. Tanpa internet, siaran televisi lokal hanya akan bisa disiarkan secara international apabila menggunakan satelit yang tentu berbiaya mahal (terkait operasional,perijinan dan sumber daya). Jadi benar adanya adagium bahwa teknologi internet memupus batasan ruang dan waktu, ketika sumber informasi bisa diakses oleh siapapun dan darimanapun.

Pemahaman terhadap konvergensi merupakan bagian penting untuk memahami ekosistem internet yang lebih komplek. Internet pada dasarnya terdiri atas tiga bagian utama: jaringan (internet backbone), sistem standar (logical platform) dan aplikasi/konten/pelayanan. Gambar dibawah ini bisa membantu memahami internet sebagai sebuah ekologi.

Screenshot (90)

Tiga lapisan utama dalam ekosistem internet

Memang kerap awam memahami internet hanya pada tataran konten, aplikasi dan pelayanan yang kerap menafikan peran penting jaringan dan sistem operasi standar (logical platform). Untuk memahami lebih jauh terkait tiga komponen utama dalam ekologi tersebut, gambar dibawah ini menyajikan informasi detail terkait

Screenshot (88)

Ekosistem internet dalam detail

Kompleksitas akan struktur internet mengharapkan para pembuat kebijakan supaya lebih hati-hati dalam memahaminya. Pengaturan terhadap lapisan teratas (konten) akan berimplikasi terhadap struktur yang ada di bawahnya: level tengah dan pondasi.

Belum lagi apabila dikaitkan dengan internet yang berskala global dimana sensor terhadap sebuah konten mungkin hanya berlaku di lokasi tertentu (misalnya sebatas lingkup negara) yang terbaca melalui IP yang digunakan. Namun untuk pengguna yang punya pengetahuan lebih, maka bisa menggunakan jalur putar (back door) atau virtual private network (VPN) yang bisa mengelabui pembacaan IP. Dengan VPN, IP tidak bisa diidentifikasi dengan mudah, karena bisa saja IP terbaca dari negara Amerika Serikat padahal aksesnya dari Indonesia.

Google dan Youtube sebagai Over the Top (OTT) platform

Google adalah mesin pencari terbesar di Internet dengan tingkat penetrasi mencapai 90% di berbagai negara, termasuk Indonesia. Youtube adalah anak perusahaan Google yang menyediakan jasa streaming online video secara gratis. Dengan menolak kehadiran Google dan Youtube maka bisa dipastikan akan mengganggu akses internet di Indonesia.

Dari sisi ekonomi ini akan merugikan lapisan pondasi, networks/jaringan, dimana pendapatan mereka didasarkan atas “byte” data yang digunakan saat mengakses internet. Google dan Youtube adalah dua perusahaan penyedia kontent (content providers) yang memaksimalkan penggunaan data, terutama YouTube yang menjajakan video streaming. Apabila pelanggan tidak menggunakan data internetnya, maka otomatis tidak ada pemasukan untuk operator penyedia jasa. Lihat info dari Alexa menggenai arus internet (internet traffic) dimana Google dan YouTube sangat mendominasi arus internet.

Kalaupun pemblokiran yang dilakukan bukan terhadap situs tapi konten tertentu saja tidak juga menyelesaikan permasalahan yang ada. Karena sifat dasar dari dunia digital adalah konten yang sudah diunggah sulit sekali dihapus, karena mungkin sudah disimpan dalam berbagai server. Sehingga mudah disebarluaskan dan digandakan.

Pernyataan Sekjen ICMI menggambarkan betapa reaktifnya cendikiawan menghadapi teknologi baru dan globalisasi. Ketimbang bersikap reaktif, lebih baik berpikir produktif dengan mencoba membangun embrio penyedia konten internet yang berbasiskan keIslaman dan keIndonesiaa. Memahami teknologi baru tidak lagi bisa menggunakan pemahaman metode lama yang bisa jadi represif dan kontra produktif. Dengan membawa nama Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, seharusnya pendekatan keilmuan dan kearifan yang diutamakan. Ketimbang bersikap reaktif yang kontra produktif.

 

East Lansing,

Juni 2016

About whisnutriwibowo

A man who strives to be a better human being, no more no less
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s