Polarisasi politik dalam perspektif psikologi sosial

Pengkubuan ekstrim dalam media sosial yang dipicu oleh aktifitas politik, umumnya pemilihan elit politik, jadi gejala yang memprihatinkan saat ini. Dimana aktifitas politik, terutama pembuatan keputusan politik, oleh warga negara dianggap melalui proses yang dangkal (shallow) dan heuristik (heuristic).

Kembali pada awal abad 21, ilmuwan sosial, khususnya dalam bidang ilmu politik, menyambut kemunculan internet sebagai obat (panacea) untuk menciptakan warga negara yang melek informasi dan rasional (Dahlberg, 2001), ketika Internet membuka keran informasi yang melintasi batasan ruang dan waktu (Dahlgren, 2015) untuk menciptakan ruang publik (Habermas, 1991).

Fenomena pengkubuan “haters” and “lovers” yang dipisahkan politik populisme (berbasiskan figur, ideologi atau ikatan sosial budaya) membuat makin menajamnya pengelompokan masyarakat. Kubu yang berseberagan kerap berdiri dalam dua realisme yang berbeda, dimana fakta dipilih dan dipilah tanpa melalui proses pemikiran yang mendalam. Bahkan kerap fakta dinafikan dengan menciptakan fakta-fakta alternatif (alternative facts). Faktanya seharusnya tunggal (the truth) dan bukan sebuah pilihan (a truth).

Perbedaan menjadi semakin menajam, dimana jalan tengah hampir sulit dicapai. Bisa dilihat dari kejadian politik di Indonesia, dimana kubu dari kandidat yang kalah dalam proses pemilihan, selalu mengambil posisi berseberangan dengan kandidat pemenang. Pada kasus di Amerika Serikat, kubu republik selalu menjegal kebijakan pemerintah Obama walaupu banyak program yang sebenarnya baik untuk rakyat. Kebijakan negara tidak lagi dipandang sebagai yang terbaik untuk negara dan masyarakat, namun sebatas emosi politik dan kekuasaan.

Peran internet dalam politik kontemporer menyisakan pertanyaan besar dimana banyaknya informasi (information abundance), tidak serta merta menciptakan politik rasional yang kondusif. Namun makin membuka jurang yang semakin dalam, terutama dengan munculnya politik populisme, terutama dari ideologi konservatif. *tesis/proposisi ini bisa diperdebatkan*

Analisis sudah banyak dilakukan, namun dalam tulisan ini saya ingin memfokuskan kepada pemrosesan informasi oleh individu. Terutama untuk memberikan argumentasi, kaitan antara tingkat pendidikan dengan proses pembuatan keputusan politik. Kenapa banyak kalangan terdidik (minimal menyelesaikan pendidikan sarjana) menggunakan proses heuristik, ketimbang memproses fakta dengan jalur rasional.

Ada satu teori yang “populer” dalam psikologi sosial untuk menjelaskan perilaku (behavior), yaitu the theory of reasoned action (Fishbein, 1979; Ajzen & Fishbein, 1980), dan kemudian teori ini dikembangkan menjadi the theory of planned behavior (Ajzen 1991). Ada dua proses yang dijelaskan dalam theory of reasoned action (TRA), bahwa perilaku bisa diprediksi melalui dua tahapan yaitu melalui intensi (intention) yang dihasilkan oleh sikap (attitude toward behavior) dan norma (subjective norms). Teori ini kerap digunakan untuk memprediksi perilaku politik individu (Ajzen, 2012), dimana memahami norma subyektif dan sikap dianggap kondisi cukup (sufficient condition). Namun teori ini dikritik karena tidak semua perilaku politik adalah “reasoned”, yang menggunakan rasio. Kritik ini sangat relevan melihat banyaknya “hoax” dan “alternative facts” yang disebarluaskan dalam sosial media. Individu dengan mudahnya berkomentar atau meneruskan pesan (share), tanpa melihat dan menimbang fakta yanga ada.

tx_rlmpofficelib_5eac9d8071.jpg

Theory of reasoned action dianggap tidak cukup untuk melihat fenomena polarisasi politik, maka ada teori lain yang bisa dipinjam untuk melihat melengkapi kekurangan yang ada yaitu dual process theory (Chaiken, 1980; Petty & Cacioppo, 1986) -buat yang studi komunikasi atau politik pasti mengenal Elaboration Likelihood Model (ELM) yang merupakan turunan dari teori ini. Chaiken menawarkan proposisi bahwa individu akan memproses pesan persuaif melalui dua jalur yaitu (1) sentral (central route) yang menggunakan rasio dan pemikiran mendalam, dan (2) periferal (peripheral route) dimana pesan diproses menggunakan emosi (emotional processing).

Bagaimana kedua teori ini bisa menjelaskan permasalahan yang saya utarakan diatas?

Banyaknya informasi yang menerpa (information exposure) dalam ruang sosial media membuat seorang individu tidak mungkin memproses semuanya. Secara natural, individu akan memilih dan memilah (selective exposure) informasi yang relevan dengan motif, minat dan sikapnya (attitude). Sehingga informasi yang tidak sesuai dengan keinginannya tidak akan dipilih ataupun dibaca. Hal ini bisa menjelaskan kenapa polarisasi politik bisa menjadi tereskalasi, karena individu hanya mau membaca informasi yang selaras dengan “selera”. Jadi individu tidak memiliki data atau fakta pembanding, sehingga akan memperkuat (reinforce) nilai yang mereka miliki sebelumnya.

Bagaimana peran norma subjektif bagi individu? norma dalam konteks TRA dipahami sebagai dua buah konsep injunctive norm dan descriptive norm. Konsep pertama mengacu kepada individu akan tunduk kepada norma sosial yang ada -terkait penghargaan dan hukuman sosial-, dan yang kedua mengacu kepada apa yang akan dilakukan oleh individu kebanyakan -terutama orang-rang penting yang ada disekelilingnya seperti keluarga, teman, saudara, dsb.

Jadi bisa dikatakan bahwa attitude akan membuat seseorang melakukan selective exposure yang kemudian didukung oleh norma subyektif untuk mengkonfirmasi perilakunya. Hal inilah yang membuat seseorang akan menjadi semakin “teradikalisasi” karena tidak pernah terekspose oleh informasi “alternatif”.

Namun hal ini belum menjawab kenapa individu yang membaca dari sumber yang berseberangan kerap tidak memproses informasi secara rasional? Dual proces model bisa membantu menjelaskan, bahwa informasi berbentuk pesan persuasif (misalnya berita, iklan, atau tulisan lainnya) bisa diproses melalui jalur sentral atau periferal. Jalur sentral akan secara kritis menganalisa argumentasi dalam pesan, sedangkan periferal tidak melihat argumen dalam tulisan namun lebih kepada atribut lain (extraneous cues) dalam pesan, seperti pembuat pesan, penggunaan gambar, atau respon orang lain terhadap pesan.

Pesan yang diproses melalui jalur sentral yang akan bisa mempengaruhi perilaku, sedangkan rute periferal hanya bersifat sementara atau bahkan tidak mengubah perilaku. Pemrosesan informasi ini juga terkait dengan sikap positif atau negatif individu terhadap pesan. Bila pesan persuasif bisa menegaktivasi secara positif, maka pesan akan bisa mempengaruhi perilaku karena diproses melalui jalur sentral dengan secara kritis menganalisa argumen. Sedangkan impresi negatif akan pesan, membuat individu akan menggunakan jalur periferal dengan menganalisa atribut tambahan tanpa berusaha mengkritisi pesan. Proses ini yang dapat menjelaskan kenapa orang yang membaca informasi tetap bisa tersegrasi secara politik, karena mereka memproses informasi melalui jalur periferal. Ketimbang secara kritis menganalisa argumen, individu mencari atribut lain (emosional) untuk melakukan penolakan argumen (counterargue). Hal ini juga bisa menjelaskan munculnya fakta alternatif (alternative facts), dimana penolakan argumen hanya untuk mengambil fakta yang berseberangan tanpa mengkritisi keotentikan fakta alternatif itu sendiri.

Sepertinya internet dan sosial media belum mampu menciptakan perilaku politik yang rasional, karena informasi kerap tidak dilakukan melalui jalur sentral. Banyaknya informasi yang beredar, membuat jalur periferal menjadi jalan cepat (shortcut) untuk memproses informasi. Jalur periferal secara kognitif tidak terlalu melelahkan, karena pesan diproses melalui atribut-atribut. Menganalisa pesan secara kritis diperlukan sumber daya yang cukup, tidak semua individu mau melakukan hal ini.

Isu literasi informasi dan literasi sosial media bisa menjadi salah satu solusinya. Mengubah sikap dan norma subyektif menjadi pekerjaan berat berikutnya.

Tulisan ini adalah dari segi teoritis, tidak ada data yang digunakan untuk menguji proposisi ataupun hipotesis yang diajukan. Jadi masih terbuka ruang didiskusikan lebih lanjut.

East Lansing

5 Januari 2017

 

 

About whisnutriwibowo

A man who strives to be a better human being, no more no less
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s